Home / Advetorial / Kisah Di Balik Sukses MTQ ke-47 Provinsi Jambi

Kisah Di Balik Sukses MTQ ke-47 Provinsi Jambi

KENDATI tim kafilahnya hanya menduduki posisi juara umum kedua, perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an ke-47 Tingkat Provinsi Jambi yang baru saja usai, memiliki arti sendiri bagi Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Dibawah kendali kepemimpinan sosok muda Bupati H. Romi Hariyanto,  sukses penyelenggaraan MTQ Tingkat Provinsi mendapat apresiasi dan pujian dari banyak kalangan, termasuk dari rombongan kafilah peserta dari kabupaten dan kota. Salah satu pujian tersebut bertalian dengan sikap tegas dan pelayanan optimal dalam memperlakukan para kafilah.

Sukses dan kemeriahan yang ditampilkan tuan rumah tidak terlepas dari kerja keras dan kebersamaan yang digalang semenjak proses persiapan sejak beberapa bulan lalu. Tidak hanya didukung masyarakat, kegiatan-kegiatan tersebut mendapat dukungan publikasi dari berbagai media massa. Mulai persiapan fisik lokasi, pemondokan kafilah, penyiapan suguhan pertunjukkan saat pembukaan dan penutupan, hingga kegiatan pendukung lainnya seperti bazzar dan wahana hiburan bagi masyarakat pengunjung.

Namun ada beberapa kisah terkait MTQ kali ini yang luput dari pemberitaan media namun memiliki arti penting atas kusuksesan agenda tahunan syiar Islam itu. Begini catatannya;

Persiapan MTQ sendiri sebenarnya tidaklah terlalu mengejutkan bagi Tanjabtim selaku tuan rumah. Pada 2007 silam, Tanjabtim juga menjadi tuan rumah tepatnya pada MTQ ke-37. Pelaksanaan MTQ kala itu juga disebut – sebut sebagai MTQ paling sukses. Bupati H Abdullah Hich ketika itu lebih memilih mempersiapkan MTQ tidak dengan membangun sarana khusus. Dia membangun gelanggang olah raga (Gelora).

Sebagai daerah pemekaran, keberadaan sebuah gelora dinilai penting. Sebelum resmi digunakan sebagai gelora, semua sarana dan prasarana yang dibangun dimanfaatkan terlebih dahulu untuk MTQ. Tribun A dan B digunakan sebagai fasilitas utama. Tribun A untuk podium utama berisi tamu VIP sedangkan tribun B sebagai mimbar tilawah. Sementara lapangan sepakbola dan lintasan atletik yang berada di antara kedua tribun dijadikan tempat pertunjukan dan pagelaran acara pendukung MTQ.

“Agar tidak mubazir, karena usai MTQ fungsinya kita kembalikan sebagai gelora,” kata Abdullah Hich ketika itu.

Pada MTQ ke-47 kali ini, Bupati Romi Hariyanto juga memilih tetap menggunakan lokasi yang sama dengan 2007 yakni Gelora Paduka Berhala. Bedanya, kali ini mimbar tilawah dibangun dari kayu persis di depan Tribun B. Romi ingin menunjukkan ciri khas Tanjabtim. Itu sebabnya mimbar tilawah dibangun berbentuk kapal dengan bahan kayu dan triplek.

Tukang yang mengerjakan diambil dari warga sekitar. Romi ingin masyarakat terlibat besar dalam MTQ kali ini. Itu juga yang menjadi alasan mengapa di acara pembukaan dan penutupan ada penampilan BKMT dan Hadrah. Keduanya adalah kelompok ibu – ibu yang berasal dari empat kelurahan sekitar lokasi.

“Mereka ini ibu-ibu yang selama ini aktif di pengajian dan gemar Hadrah. Kita beri mereka panggung di MTQ sebagai apresiasi atas kegiatan mereka selama ini,” jelas Romi usai penutupan MTQ di Gelora Paduka Berhala, Jumat malam (11/8).

Romi menyadari bahwa Tanjabtim masih banyak kekurangan. Dan dia memaklumi jika kemudian banyak cibiran dari para kafilah yang berasal dari berbagai daerah yang lebih maju. Misalnya saja soal jalan menuju Tanjabtim yang saat ini kondisinya rusak. Begitu pula sarana prasarana di ibukota Tanjabtim, tempat dilangsungkannya MTQ. Pasar, hotel , apalagi mall memang belum ada di kawasan ini. Begitu pula tempat wisata yang bisa dibanggakan.

Atas kesadaran itulah, Bupati Romi berinisiatif menghadirkan kesan mendalam dari sisi pelayanan. Dari awal kafilah datang, hingga penutupan MTQ, laporan soal pelayanan kafilah adalah hal yang setiap hari ditunggu Romi dari masing-masing penanggungjawab pemondokan. Jangan sampai ada keluhan kafilah didengarnya. Dipastikan Romi akan murka dan memberi teguran keras. Mungkin itu sebabnya setiap pagi, siang, sore dan malam selalu ada petugas yang mendatangi pemondokan dan menanyakan keluhan para kafilah.

Seperti yang terjadi di pemondokan Sarolangun di RT 01 Talangbabat. Saat akan mempersiapkan kepulangan usai penutupan MTQ, bus yang akan membawa para kafilah Sarolangun terperosok akibat jalan licin habis diguyur hujan. Mendengar kabar itu, bupati Romi yang masih mengikuti acara penutupan, langsung memerintahkan Kadis Infokom Herman Toni untuk segera mencari bantuan.

Sebelumnya, saat pembukaan MTQ tanggal 5 Agustus, Romi juga melontarkan beberapa hal yang membuat kesan tersendiri bagi para kafilah. Pertama soal adanya perusahaan konsesi besar yang tidak berkontribusi pada MTQ kali ini. Lalu soal peringatannya agar kafilah atau official jangan coba-coba bermain curang. Bahkan dengan tegas Romi menyatakan akan ‘mengarantina’ dewan hakim. Tidak boleh perwakilan kafilah manapun bertemu dengan dewan hakim termasuk Tanjabtim.

Romi pun menyiagakan Satpol PP di mess PKK tempat dewan hakim diinapkan. Saat yang sama Romi juga menggaransi bahwa semua anggota kafilah Tanjabtim murni putra putri Tanjabtim sendiri. Tidak ada istilah qori bayaran atau qori impor.

Dikatakannya, prestasi bukan target utama. Karena tugas menjadi tuan rumah yang baik, harus lebih diprioritaskan. Soal ajakan untuk fair dalam ajang MTQ ke-47 ini, diharapkan Romi menjadi momentum perubahan dan awal baru bagi tradisi MTQ di masa – masa mendatang.

Komitmen itu pula yang membuat Romi menolak spekulasi yang disampaikan Kepala Bagian Kesra,Taufik, terkait hasil akhir lomba. Taufik dalam sebuah kesempatan, meminta pendapat dan arahan Romi apakah perlu berkomunikasi dengan dewan hakim atau Kanwil Kemenag soal hasil akhir setiap cabang lomba. Lazimnya, tuan rumah adalah pihak yang paling mungkin menjalin komunikasi itu. Mendengar itu, spontan Romi naik pitam.

“Coba saja, jika sampai kita juara umum karena kecurangan, besok paginya Anda saya copot dan pindah ke Sadu (kecamatan Sadu),” tegas Romi.

Taufik sedianya melaporkan tentang perkiraan hasil akhir. Dari jumlah poin yang terkumpul oleh masing-masing kafilah, Tanjabtim diperkirakanya hanya akan menjadi juara kedua.

“Mau juara dua, juara tiga atau tidak dapat juara pun, kita harus terima. Itulah buah perjuangan kita. Jangan karena ingin juara kita menjilat ludah sendiri. Dari awal saya sampaikan, legitimasi MTQ kali ini harus seratus persen,” tambah bupati. (Humas/BST)

Check Also

Ribuan Warga Antusias Mudik Bareng Gratis PTPN VI

HALUAN JAMBI : Sekda Jambi, H.M.Dianto menyatakan, Pemerintah Provinsi Jambi sangat mengapresiasi layanan mudik gratis …

Milad Ke-20 SMAN 3 Tanjab Timur Meriah!

HALUAN JAMBI : Perayaan Milad atau Hari Ulang Tahun SMA Negeri 3 Tanjungjabung Timur ke-20 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *